Jurnalisme Presisi

An archetypal journalistSEBUTAN precision journalism atau jurnalisme presisi diintrodusir pertama kali oleh seorang profesor jurnalisme dari Garnett Center for Media Studiea, Amerika Serikat, pada tahun 1973. Sebelumnya jenis jurnalisme ini disebut sebagai new journalism (jurnalisme baru), computer-assisted journalism (jurnalisme yang dibantu komputer), scientific journalism (jurnalisme ilmiah), atau quatitative journalism (jurnalisme kuantitatif).

Karena itu jurnalisme presisi memiliki banyak definisi. Salah satu definisi jurnalisme presisi yaitu cara melakukan reportase (reporting) jurnalistik dengan memakai metode penelitian sosial sebagai cara mengumpulkan keterangan dan menggunakan content analysis sebagai sumber informasinya.

Jenis jurnalisme ini tidak banyak berbeda dengan reportase investigatif. Hanya saja,  bedanya, jurnalisme presisi menggunakan metode ilmiah. Ada dua metode penelitian utama yang umumnya dipakai yaitu content analysis dan riset survey (survey research). Sedangkan metode satu lagi yaitu field experiment atau survai lapangan dan yang terakhir ini jarang dipakai.

Para peneliti masalah jurnalistik percaya bahwa jurnalisme presisi telah dilakukan lebih dari 70 tahun yang lampau. Namun demikian, para peneliti umumnya sepakat bahwa majalah Fortune dari AS merupakan perusahaan pers pertama yang memakai cara polling atau pengumpulan pendapat ilmiah untuk menjadi bahan beritanya.

Majalah tersebut pada tahun 1935 mengadakan penelitian tentang berapa banyak batang sigaret yang dihabiskan masyarakat AS selama sehari, lalu jenis mobil apa yang mereka sukai, dan tipe kendaraan apa yang ingin mereka miliki dan masih banyak lagi.

Pada tahun 1939, majalah Reader’s Digest mengadakan penelitian dengan cara mendatangi tempat-tempat reparasi arloji, mobil dan peralatan rumah tangga lainnya. Hasilnya cukup mengejutkan, sebab berdasarkan penelitian itu, ternyata 50% lebih warga AS mengalami kerugian akibat kesalahan diagnose kerusakan dan terlalu mahal membayar ongkos reparasinya.

Di dasawarsa 60-an, telah terjadi berbagai gejolak sosial politik di dalam negeri AS serta beberapa bagian dunia lainnya. Publik pada masa itu menuduh pers telah bekerja tidak obyektif, sepihak dan tidak komprehensif laporannya. Karena itu, di dasawarsa 60-an itulah, muncul berbagai bentuk jurnalisme yang berusaha mengimbangi arus utama gaya penulisan yang umumnya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pers besar.

Dari sinilah kemudian berkembang apa yang disebut “jurnalisme bawah tanah” guna membela kepentingan masyarakat yang tidak mampu menyampaikan aspirasinya. Jurnalisme seperti jurnalisme advokasi, jurnalisme baru, jurnalisme muckraking (memerangi korupsi) marak dan menjad mode. Guna menjaring pendapat publik secara akurat, maka sejumlah perusahaan pers AS mengadakan polling pendapat, menggunakan metode riset ilmiah untuk mengekspose dan mengeksplorasi problema sosial.

Pada tahun 1973, ada laporan jurnalistik yang menempatkan jurnalisme presisi semakin menarik. Kasusnya diungkap oleh dua orang wartawan Philadelphia Inquirer, yang juga periset masalah sosial, yaitu Donald Barlett dan james Steele. Keduanya mengumpulkan 100.000 lembar informasi dari 1.034 terdakwa yang terlibat tindak kejahatan dengan kekerasan. Penelitian mereka menghasilkan 4.000 halaman yang menunjukkan disparitas yang besar dalam cara penanganan perkara, tergantung pada status sosial, serta ras para terdakwa. Hal ini menyimpulkan bahwa terjadi kesalahan dalam sistem peradailan nasional AS waktu itu dan menimbulkan banyakreaksi untuk memperbaikinya. Laporan itu mendapatkan dua penghargaan jurnalistik.

Hingga di awal dasawarsa 70-an, jurnalisme presisi itu masih dianggap banyak memakan waktu, tenaga, serta biaya, apalagi tidak banyak wartawan waktu itu yang mahir dengan penelitian ilmiah. Namun dengan semakin majunya teknologi komputer, maka pekerjaan semakin mudah walaupun waktu dan biaya tetap menjadi problem bagi sebagain perusahaan pers.

Namun demikian, jurnalisme presisi semakin banyak dilakukan oleh berbagai perusaaan pers. Hal ini disebabkan, laporan hasil jurnalisme ini dianggap lebih obyektif, di samping lebih mewakili masyarakat serta menghindari sumber berita konvensional seperti pejabat negara, politisi, petugas humas, tokoh masyarakat maupun selebritas. Dengan jurnalisme presisi inilah memungkinkan rakyat kebanyakan menjadi sumber berita, antara lain lewat metode jajak pendapat itu.

(Nada-kempul.com, kutip dari buku: “Precision Journalism” karya David Pears Demers dan Suzanne Nichols. Penerbit: Sage Publications, London, 1987)

 

Leave a Reply